______________________________________________________________
Tulisan ini saya buat pada akhir tahun 2022. Saya post di web ini tanpa mengubah isinya sama sekali. Selamat membaca 🙂
______________________________________________________________
Saya tidak pernah menyangka bahwa jalan hidup saya akan berubah total pada tahun 2012. Diubah oleh sebuah garis nasib bernama Bipolar Disorder.
Saya Dyah Ari Wijayanti, berumur 33 tahun, saat ini tinggal bersama suami di Timoho, Kota Jogja.
Saya akan sedikit menceritakan mengapa Bipolar Disorder membelokkan jalan hidup saya, yang tadinya lurus menjadi berbelok ekstrim, tiga ratus lima puluh sembilan derajat (3590).
Sebelumnya hidup saya sangatlah lurus, wajar, dan bahkan bisa dibilang mulus. Saya selalu berprestasi di sekolah, dan bersekolah di sekolah favorit di Kota Solo.
Memasuki perguruan tinggi favorit sekelas UGM pun adalah hal mudah bagi saya. Saya juga anak baik yang tidak pernah aneh-aneh.
Tapi saat kuliah, saya sedikit menantang diri saya untuk menjadi seorang mapala, mahasiswa pecinta alam. Saya cukup aktif menggeluti dunia kepecintaalaman waktu kuliah, bahkan sampai terpilih menjadi ketua mapala fakultas di tahun 2010.
Saat aktif di mapala itulah saya mengalami perubahan dalam memandang hidup. Saya bukan lagi seorang kutu buku terlampau rajin yang mementingkan prestasi akademis seperti sejak SD sampai SMA. Menjadi mapala membuat saya cukup gelisah, akan bagaimanakah nanti hidup saya, akankah saya ikut berjuang untuk menjaga kelestarian bumi, lingkungan, dan manusianya? Di bidang apakah saya akan mememukan kedamaian hidup? Apakah yang menjadi tujuan hidup saya? Dan banyak pertanyaan eksistensial lainnya.
Menjadi mapala dengan aktivitas naik gunung, susur goa, panjat tebing, mengarungi sungai dan menyusuri pantai bukan hanya membuat saya menyadari bahwa alam beserta isinya sungguhlah indah, dan kita semua tentu harus menjaganya. Tetapi dari bergelut dengan alam dan segala tantangannya, saya menyadari pentingnya memahami manusia, memahami teman-teman seperjalanan saya, memahami pentingnya kerja sama, terutama misalnya kerjasama saat menghadapi badai di atas gunung, atau saat hanyut di jeram dan membutuhkan bantuan, atau saat ada yang mengalami kecelakaan di dalam goa vertikal (ini cerita nyata, kepala saya pernah bocor karena kejatuhan batu di goa vertikal dan terluka cukup parah, tapi mungkin cerita ini tidak akan saya tuturkan detail di sini).
Manusia adalah bagian dari alam, yang harus turut dipahami juga. Tetapi pikiran manusia sangatlah kompleks.
Pikiran saya sangatlah kompleks.
Saya terjebak dalam keresahan memikirkan diri sendiri, memikirkan pikiran saya sendiri.
Akhirnya, pada April 2012 saya mengalami goncangan paling dahsyat yang belum pernah saya alami sebelumnya sepanjang hidup saya. Dan pada 12 Mei 2012 saya dibawa ke psikiater. Saya didiagnosa dengan Bipolar Disorder (gangguan Bipolar), dan bukan Bipolar murni saja, saya mengalami delusi dan psikotik sebagaimana penderita Skizofrenia. Sungguh sebuah ujian yang all-out, nggak tanggung-tanggung.
Tetapi menceritakan pengalaman saya menjinakkan Bipolar Disorder dengan bonus waham kebesaran (grandiose delusion) ini tidak akan cukup dalam satu halaman.
Karena 10 tahun bukan waktu yang singkat. Kalaupun menjadi novel mungkin akan berjilid-jilid. Tapi satu hal yang akan saya katakan.
Di titik ini, saya bersyukur karena dianugerahi gangguan mental berupa Bipolar. Walaupun garis hidup saya berubah total, berubah arah terlampau jauh dari bayangan. Tetapi karena Bipolar, saya belajar banyak hal.
Psikiater dan psikolog mungkin saja belajar teori tentang bagaimana memahami jiwa secara keilmuan, lalu mereka mempraktikkannya dalam rangka membantu menyembuhkan orang dengan gangguan mental.
Tetapi saya memiliki ‘privilege’ untuk belajar langsung, belajar dari penyakit saya sendiri.
Dan tidak semua orang dapat ‘terpilih’, seperti saya.
Saya tahu bahwa saya mesti merelakan bertahun-tahun hidup saya, berada dalam jurang kegelapan dan penarikan diri. Saya juga tahu bahwa menjadi yang ‘terpilih’ untuk mempelajari Bipolar ini taruhannya adalah nyawa (saya beberapa kali suicidal, tentu saja, untung tidak sukses, hehe).
Tapi, ternyata silver lining itu nyata adanya.
Saya jadi lebih mengenal dan memahami manusia. Memahami bagaimana pikiran bekerja. Memahami dan mengerti akan perasaan dan pentingnya rasa empati.
Memahami bagaimana menjadi manusia seutuhnya.
Dan pada akhirnya memang, segala keresahan humanis dan eksistensial yang saya alami ketika saya aktif di mapala, terjawab sudah.
_________________________________________________________
Yk, akhir 2022
Dyah Ari Wijayanti
Leave a Reply