Jeda

Saat ini, kata ‘jeda’ mungkin adalah kata favoritku. Di dunia yang serba cepat dan menuntut reaksi yang cepat pula, jeda adalah kemewahan.

Yang membuat waktu berharga adalah justru ketika kita berjeda. Bukan karena kita gas terus, mengejar semuanya, ga pake rem.

Tentu ketika semua orang berlari, dan kamu diam saja mengamati sekeliling, kamu akan dianggap aneh.

Tetapi berjeda telah menyelamatkanku dari jurang kekambuhan mental.

Aku lambat merespon chat adalah bagian dari jeda. Dan aku terselamatkan karenanya.

Sebenarnya aku akan melakukan apa pun sih untuk terhindar dari kekambuhan. Slowresponding adalah salah satunya. Kayaknya aku udah sering bilang soal ini ya.

Aku tak begitu peduli kalau itu merusak relasi dengan orang lain. Tetapi orang yang benar-benar temanku, benar-benar saudaraku, akan maklum. Kalau memang dibutuhkan, mereka akan mengontak Mas Jerrie.

Pentingnya jeda dan jarak menghindarkanku dari nabrak-nabrak. Mungkin kalau njenengan bukan ODGJ ga akan relate.

Tetapi walau aku sudah menyebut diri di bio IG sebagai ODGJ profesional, untuk urusan jeda ini mungkin adalah bagian dari diriku yang kurang profesional. Atau malah karena berjeda aku justru bisa menjadi ODGJ profesional. Profesional adalah tidak kambuh lagi. Mungkin. Simpel.

Sebagai ODGJ Bipolar yang sepertinya kalau teriak marah-marah pun akan bisa dimaklumi, kalau blunder pun akan tetap bisa dimaklumi, aku merasa hal itu kurang bertanggungjawab.

Aku telah belajar sangat banyak. Benar-benar mematangkan diri agar tidak marah meledak-ledak.

Tidak kambuh berarti aku telah sangat memudahkan suami dan keluarga.

Semoga memang jatah kambuhku sejak 2012 telah kuambil semua.

Terima kasih, jeda…

Timoho, Yogyakarta. 3 September 2026

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *